Sabtu, 26 November 2011

Kejujuran Adalah Kunci Sukses Berbisnis


Di dunia maya maupun di dunia nyata,pembisnis berterbaran disana disini,baik yang menjual produk secara fisik maupun dalam bentuk e-book yang sering kita liat saat ini…!tetapi pertanyaannya adalah apakah pembisnis tersebut “jujur”?akan kualitas produk yang di tawarkan kepada pelanggan..?Bila anda menipu atau membohongi pelanggan maka bisnis yang anda kelola lambat-laun akan mengalami kehancuran,Betulkan…?Ada istilah yang sering saya dengar dari seorang pembisnis“mati karena kelaparan adalah sesuatu yang kecil,tapi jika kehilangan kejujuran adalah sesuatu yang besar”.
Oleh karena itu,jika ingin sukses seorang pembisnis harus perlu memperhatikan  prinsip-prinsip kejujuran di bawah ini,yaitu:
  1. Bertindak konsisten sesuai dengan prinsip-prinsip serta nilai-nilai dan kepercayaan.Kejujuran adalah sebuah kebenaran,bahkan kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana,anda setuju…?Pembisnis di harapkan memiliki prinsip pemaaf,bertanggung jawab,dan adil.Pembisnis juga memiliki nilai nilai kreatif,bijaksana,bersahabat dan melayani.
  2. Berkata Benar dan bijaksana,masih sedikit di antara kita yang merasa bangga secara jujur mengakui kelemahan dirinya.Banyak pembisnis bertanya dalam hatinya apakah kita harus jujur dan berkata benar..?Apakah mungkin pelangganmeninggalkan jika menunjukan kelemahan produk kita..?Sebenarnya jika anda berkata benar berarti anda mempunyai tujuan yang benar,yaitu berusahan memberikan informasi produk yang sesungguhnya kepada pelanggan.
  3. Menempati Janji;Banyak pembisnis yang saya liat mengucapkan janji-janji selangit kepada pelanggan,dengan tujuan agar pelanggan segera membeli produknya,namun jika pembisnis terlalu ombral janji,dan tidak bisa memenuhi janjinya bukan mustihil pelanggan akan kecewa dan membalkan membeli produknya.Oleh karena itu seorang pembisnis,sebelum mengucapkan janji,harus mengetahui secara rinci tentang sesuatu yang di janjikan kepada pelanggan.
  4. Berani membela kebenaran untuk sukses;Nah inilah dia resiko bertindak jujur,mungkin berdampak pada bisnis anda,Tapi ingat,sekali saja anda tidak jujur dan berkata tidak benar,maka pelanggan meninggalkan anda dan kredibilitas anda akan jatuh,jadi anda harus berani tampil membela kebenaran.

Selasa, 15 November 2011

WAHAI UMAT MANUSIA, PELUKLAH AGAMA ISLAM AGAR KALIAN SELAMAT DUNIA-AKHERAT DAN BISA MASUK SURGA


author: Abu Azzam
1. Firman ALLAH dalam QS Ali Imran :85
“Barang siapa mencari agama selain dari Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang merugi.
2. Sabda Nabi (Lihat Shahih Muslim)
“Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNYA, tidak ada seorangpun dari ummat manusia yang mendengarkerasulanku baik dia itu seorang yahudi maupun nasrani lalu mati dalam keadaan belum beriman pada ajaran yang kubawa melainkan ia pasti termasuk penduduk neraka.”
3. Refer juga pada kisah ketika Rasulullah sangat marah ketika Umar Radhiallaahu’anhu memegang suhuf ayat2 dari kitab Taurat.
Nabi menegur Umar “…. Sekiranya saudaraku Musa ‘alaihi salam hidup sekarang ini maka tidak ada keluasaan baginya kecuali mengikuti syari’atku”
(HR Ahmad, Ad-Darimi dll).
Lantas jika ada yang bertanya, bukankah banyak orang non-muslim yang telah berjasa bagi manusia spt yg dilakukan Bunda Teressa dll? Apakah mereka juga dineraka?
Jawab:
Benar, mereka telah memberi kontribusi besar dalam hubungan sesama manusia. Tetapi harus dipahami bahwa manusia memiliki 2 kewajiban, yaitu kewajiban antar seama manusia dan kewajiban terhadap ALLAH.
Ketahuilah bahwa kewajiban manusia terhadap ALLAH ini jauh lebih besar dan penting dan kewajiban inilah yang banyak diabaikan manusia.
Bagi yang berbuat syirik atau non muslim, meskipun mereka beramal maka amal mereka hangus tidak diterima ALLAH. (Dalilnya bisa lihat dalam AL-Qur’an). Dan balasan atas kebaikan mereka thdp sesama manusia disegerakan pembalasannya oleh ALLAH didunia ini.
Bagaimana halnya dengan kaum yang dakwah belum pernah sampai kpd mereka?
Para Ulama menjelaskan, bahwa diakhirat kelak mereka akan dibangkitkan ALLAH kemudian diberikan beberapa ujian untuk penentuan tempat bagi mereka.
Salah satu Sifat ALLAH adalah Maha Adil.
ALLAH lebih adil dari siapapun yang merasa paling adil. Sehingga tidak ada sedikut alasan bagi mereka yang ingin bersu’udzan kepada ALLAH.
Wallaahu’alam.

Wabah Hamilisasi Bahaya Kristenisasi


Orang-orang Kristen menghalalkan segala cara untuk memurtadkan kaum Muslimin. Di antaranya melalui jalur pernikahan, hamilisasi dan pemerkosaan muslimah. Seperti kasus-kasus berikut:
Di Jakarta Timur, seorang Muslimah (Fatma) terpedaya oleh tipuan Jim, seorang penginjil yang pura-pura masuk Islam untuk menikahinya. Setelah punya dua anak, Jim mulai menampakkan kekristenannya dan berusaha memaksa Fatma untuk pindah agama ke kristen. Setelah diselidiki, barulah terbongkar rahasianya dengan ditemukan ijazah STT Nehemia milik JIM
Khairiyah Anniswah alias wawah, siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Padang, diculik dan dijebak, diberi minuman perangsang lalu diperkosa oleh aktivis kristen. Setelah tidak berdaya, dia dibaptis dan dikristenkan
Di Bekasi, modus pemerkosaan dilakukan lebih jahat lagi. Seorang pemuda Kristen berpura-pura masuk Islam dan menikah dengan gadis Muslimah yang salehah. Setelah menikah, mereka mengadakan hubungan suami istri. Adegan ranjang yang sudah direncanakan itu difoto oleh kawan pemuda kristen itu. Setelah foto dicetak, kepada Muslimah tersebut disodorkan dua pilihan, “Tetap Islam atau pindah ke kristen?” kalau tidak pindah ke kristen, maka foto-foto telanjang sang Muslimah akan disebarluaskan. Karena tidak kuat mental dan tidak kuat Iman, dengan hati berontak dan terpaksa ia mau dibaptis untuk menghindari aib.
Kisah Nyata seorang Ibu bernama Dewi
“Saya seorang Ibu 29 tahun dan suami 31 tahun. Kami telah dikaruniai dua anak. Yang pertama pria (6), dan kedua putri (2). Kami mmenikah 7 tahun yang lalu, dia adalah teman sekampus saya. Saat pertama mengenalnya, saya benar-benar benci. Maklum, saya lahir dari keluarga Msulim yang taat, sementara dia pemeluk protestan. Tapi entahlah, mungkin karena dia tidak pernah putus asa, saya kemudian menerimanya menjadi pacar. Saya benar-benar semakin saying setelah dia kemudian menerima menikah dalam islam. Saya benar-benar bahagia sekali. Tetapi setelah datangnya anak pertama lalu disusul anak kedua, banyak perubahan yang terjadi pada suami saya. Tiba-tiba dia jarang shalat dan sering keluar tanpa pamit. Belakangan saya tahu ternyata dia tidak benar-benar meninggalkan agamanya. Bahkan, sejak anak kedua kami lahir, secara terang-terangan dia pernah mengatkan kepada saya. “Saya masih seperti dulu, jadi jangan harap ada perubahan”. Mendengar kata-katanya, saya hamper tidak percaya. Suami saya yang tadinya pendiam itu tiba-tiba seperti itu. Yang membuat saya benar-benar takut dan sedih, hari-hari ini, dia sering memaksa saya untuk dating di kebaktian.’ Saya sedang sedih dan bingung. Apa yang seharusnya saya lakukan? Apakah saya harus mempertahankan perkawinan ini? Dan apa hukumnya? Saya ingin Bapak bisa menjawab kesulitan saya” (Dari buku “jejak tokoh islam dalam Kristenisasi”)
Jawabannya: Ibu itu harus bercerai, seorang sahabat Rasulullah bernama Ibnu Abbas berkata: “Apabila wanita Nasrani (Kristen) masuk Islam (lebih dulu) sebelum suaminya sesaat (saja), maka dia haram atas suaminya.”(Shahih Bukhari)
Hadis diatas menunjukkan jika ada suami istri Kristen lalu si istri masuk Islam dan suaminya masih Kristen, maka suami itu haram, rusak pernikahan antara keduanya. Begitu pula jika suaminya murtad atau pura-pura masuk Islam maka rusak pernikahannya.
Rasulullah bersabda, ”mereka (ahli Kitab yakni yahudi dan nasrani) tidak menikahi wanita-wanita kami.” (Diriwayatkan Thabrani)
Masih banyak kasus-kasus serupa di lapangan. Korban-korban pemurtadan melalui pacaran, hamilisasi dan pemerkosaan sudah sangat banyak. Kaum Muslimah harus berhati-hati dalam memilih teman, terlebih lagi dalam memilih calon suami.
Wanita Muslimah dilarang atau haram dinikahi oleh pria kafir dari kalangan Kristen, yahudi atau agama kafir lainnya.
Wanita Muslimah haram dinikahi oleh pria Kristen. Karena Kristen itu kafir dan musyrik. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(Al Maaidah ayat 17)
Orang kafir itu haram bagi wanita Muslimah. Allah berfirman (yang artinya): “hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu wanita-wanita yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir dan orang-orang kafir tidak halal pula bagi mereka.”(Al Mumtahanah ayat 10)
“Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik daripada orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedang Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran” (Al Baqarah ayat 221)
Penjelasan Surat Al Baqarah ayat 221:
Haram seorang wanita beriman menikah dengan laki-laki kafir secara mutlak
Seorang budak laki-laki yang beriman walaupun ia seorang budak keturunan Ethiopia yang hitam sekali adalah masih jauh lebih baik daripada seorang laki-laki musyrik, kafir walaupun ia punya jabatan atau ketampanan yang membuat kalian tergoda.
“Mereka mengajak ke Neraka”. Maksudnya, bergaul dan berhubungan dengan orang-orang kafir seperti orang Kristen hanya akan membangkitkan kecintaan kepada dunia dan mengutamakan dunia daripada akhirat, melupakan akhirat, apalagi menikah dengan orang Kristen, ini sangat berbahaya, dapat menyeret pada kekafiran karena mereka mengajak kepada kekafiran.
Umar bin Khaththab pernah mengatakan: “lelaki Nasrani (Kristen) tidak boleh menikahi wanita Muslimah.”(Riwayat Ibnu Jarir)
Laki-laki kafir musyrik itu tidak boleh menikahi wanita Muslimah, tidak boleh menggaulinya, karena itu merupakan penghinaan terhadap Islam.
Menikahlah dengan Muslim yang Bertakwa
Kesholihan dan ketakwaan adalah dua sifat yang pertama kali harus dicari dari lelaki yang datang melamar seorang wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika ada lelaki datang kepada kalian, yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi.”(Hadis riwayat Imam Al Bukhari)
Seorang Ulama bernama Hasan Al Bashri berkata: “Nikahkanlah putrimu dengan lelaki yang bagus agamanya, sebab jika ia mencintai putrimu, ia akan memuliakannya. Tapi jika ia membencinya, ia tidak akan menganiayanya.”
Pada zaman sekarang ini, betapa banyak wanita yang mengeluhkan perlakuan aniaya suaminya. Ini karena di awal mula menikah, ia tidak pintar menentukan pilihan, mereka menikah dengan lelaki yang tidak berakhlak, tidak menunaikan kewajiban yang Allah tetapkan kepadanya. Pilihannya hanya terbatas pada penampilan lahiriyah saja. Orang-orang yang kagum terhadap orang orang kristen Barat, mengatakan bahwa para wanita Barat menikmati kebahagiaan yang sangat besar bersama suami, namun kenyataan justru sebaliknya. Mari kita lihat data-data yang menunjukkan kekejaman orang-orang barat kristen:
Majalah Time yang terbit di Amerika pernah mempublikasikan, enam juta wanita di Amerika Serikat menderita penganiayaan oleh suaminya per tahun. Sementara 2000-4000 wanita menerima pukulan yang menyebabkan kematian.
Pada tahun 1979, kantor FBI menumumkan, 40% kasus pembunuhan wanita terjadi karena problem rumah tangga. Selain itu, 25% percobaan bunuh diri yang dilakukan wanita dilatari oleh perselisihan keluarga.
Sebuah studi di Amerika yang dilakukan pada tahun 1987 menunjukkan bahwa 79% laki-laki memukul wanita, terutama ketika mereka telah menjadi suami istri. Studi ini berdasarkan survey yang dilakukan Dr. John Beirier, asisten professor ilmu jiwa di Universitas Carolina Selatan kepada mahasiswanya.

Rabu, 09 November 2011

Risau karena Was Was dan Lamunan

Ketika dalam shalat dan saya mencoba konsetrasi terhadap arti bacaan dalam shalat atau ada niatan untuk melakukan kebaikan. Tiba-tiba datang pemikiran buruk dari syetan sampai masuk ke dalam akal fikiranku sehingga ada usulan-usulan jelek tentang segala sesuatu termasuk berkaitan dengan Allah juga. Dan saya marah karena itu. Saya tidak tahu lagi bahwa tidak ada yang bisa menerima taubat melainkan Allah. Dikarenakan pemikiran yang jelek seperti ini saya rasakan tidak ada lamunan yang lebih jelek dibandingkan apa yang ada lamunan jelek berkaitan dengan Dzat Allah. Dan saya nenatiasa meminta ampunan kepada Allah setiap selesai shalat, akan tetapi saya merasakan kesumpekan dalam dada karena saya ingin menghentikan lamunan-lamunan jelek yang menempel di fikiranku mengenai Allah. Pemikiran seperti ini menghilangkan rasa nikmat dalam shalat bahkan sebalilknya saya merasakan pesimis. Tolong minta nasehat kepada anda supaya bisa menghilangkan pemikiran jelekku. Terima kasih

Segalal puji hanya milik Allah semata,
Was was yang jelek baik dalam shalat atau yang lainnya bersumber dari syetan, karena dia bener-bener ingin menyesatkan orang muslim dan menjauhkan dari kebaikan. Pernah dahulu shahabat mengadu kepada Rasulullah sallalahu’alihi wasallam tentang was-was yang dia rasakan dalam shalat, beliau berkata : “ Sesungguhnya syetan telah menghalangiku dalam shalat dan bacaanku sehingga sampai saya lupa. Kemudian Rasulullah sallallahu’alihi wasallam bersabda : “ Dia adalah syetan yang biasa dipanggil dengan nama “ KHONZAB “ kalau sekiranya engkau merasakannya, maka berlindunglah kepada Allah darinya dan meludahlah sebelah kiri sebanyak tiga kali. Dia berkata : “ Kemudian saya praktekkan hal tersebut, dan Allah telah menghilangkaan dari rasa was-was tersebut “ HR. Muslin no : 2203
Khusyu’ dalam shalat adalah intisarinya, kalau tidak khhusu’ dalam shalatnya bagaikan jasad tanpa ruh. Diantara yang bisa membantu untuk mendapatkan kekhusyu’an ada dua hal :
Pertama : kesungguhan seorang hamba untuk memahami apa yang dibaca dan apa yang dia kerjakan, dengan mentadaburi bacaan, dzikir dan doanya. Begitu juga menghadirkan bahwa dirinya dalam kondisi munajat kepada Allah subhanahu wata’ala seakan-akan Allah melihatnya, karena ketika dia melaksanakan shalat dalam kondisi berdiri, dia munajat kehadirot ilahi rabbi. Dan ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau sekiranya tidak bisa melihat-Nya. Maka ketahuilah bahwasanya Dia melihatmu. Kemudian manakala seorang hamba telah merasakan kenikmatan dalam shalat, maka keinginan untuk melakukan shalat lebih kuat, dan hal ini berkaitan penting dengan kekuatan keimanan seseorang – dan sebab-sebab untuk menguatkan keimanan banyak sekali –oleh karena itu Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda : “ Disenangkan pada diriku urusan dunia adalah wanita dan wewangian. Dan dijadikan shalat sebagai penyejuk pandangan mataku “. Begitu juga dalam hadits yang lainnya, beliau bersabda : “ Wahai Bilal, hiburlah kami dengan shalat “ bukan mengatakan jauhkan dari shalat.
Kedua : bersungguh-sungguh untuk menolak apa-apa yang mengganggu hati dan pikiran yang tidak ada manfaatnya. Dengan mentadaburi apa-apa yang bisa menarik hati maksud dari shalat itu sendiri. Dan hal ini setiap hamba berlainan. Banyaknya muncul was-was dipengaruhi banyaknya syubhat dan syahwat serta ketergantungan hati pada yang dicintainya yang mana hati ingin selalu menggapainya. Dan yang tidak disukai, hati ingin senantiasa menolaknya. Selesai dari buku Majmu’ Fatawa Syekhul Islam Ibnu Taimiyah : 22 / 605
Sementara apa yang anda sebutkan dengan munculnya rasa was-was yang berlebihan sampai memikirkan Dzat Allah dan apa yang tidak layak untuk Allah, maka hal ini bersumber dari syetan. Allah telah berfirman : “ Dan ketika ada bisikan-bisikan dari syetan kepada engkau, maka berlindunglah kepada Allah. Karena sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat “ Fusilat : 36
Pernah sebagian shahabat mengadu berkaitan tentang masalah was-was yang sangat memberatkan baginya, sebagian shahabat datang kepada Nabi sallallahu’alaihi wasallam dan bertanya : “ Kami mendapatkan pada diri kami yang sangat berat untuk kami ucapkan. Beliau bertanya : “ Apa benar apa yang kamu dapatkan / rasakan ??, mereka menjawab : “ Iya “. Kemudian beliau bersabda : “ Itu adalah keimanan yang jelas “. Diriwayakan Muslim no : 132 dari Hadits Abu Hurairoh radhiallah’anhu.
Imam Nawawi berkomentar tentang hadits ini : “ Ungkapan Rasulullah sallallahu’alihi wasallam “ Itu adalah Keimanan yang jelas “ maknanya adalah menganggap berat dengan mengucapkannya (( dengan was-was ini )) itu adalah keimanan yang jelas. Karena keberatan dan ketakutan darinya. Dan dari ucapannya apalagi sampai menjadi keyakinannya, hal ini terjadi pada orang yang benar-benar sempurna imannya dan tidak akan pernah ragu lagi.
Pendapat lain mengatakan maknanya, sesungguhnya syetan melakukan was-was ketika dia putus asa untuk mengganggunya, makanya dia memasukkan was-was karena tidak mampu lagi mengganggunya. Sementara orang kafir dia bisa mengganggunya kapan saja, tidak hanya was-was saja bahkan dia bisa permainkan kapan saja dia mau. Dari sini makna hadits tersebut adalah sebab adanya was-was adalah masalah keimanan itu sendiri atau was-was adalah tanda keimanan yang bagus. Lihat Soal no ( 12315 )
Oleh karena itu, ketidak sukaan, kemarahan dan menjauhnya hati dari was-was adalah keimanan yang jelas. Was-was akan mengganggu setiap orang yang ingin menghadap kepada Allah dengan dzikir dan yang lainnya. Sehingga seorang hamba harus sabar menghadapinya, konsisten dengan dzikir dan shalat dan jangan merasa capek. Karena dengan konsisten melakukan seperti itu akan menghalau tipu daya syetan (( Sesungguhnya tipu daya syetan itu lemah )). Setiap kali seorang hamba menghadap kepada Allah, akan datang rasa was-was yang lainnya, karena syetan itu ibarat pembegal jalanan. Setiap kali seorang hamba ingin berjalan dia akan membegal di jalan. Oleh karena itu ada ungkapan salah seorang ulama’ salaf : “ Orang Yahudi dan Kresten mengatakan : “ Kami tidak pernah mengalami was-was “. Memang benar ucapan mereka, bagaiama syetan akan mengganggu rumah yang sudah rusak ??!!. dari Fatawa Syekh Islam Ibnu Taimiya : 22 / 608
Pengobatan
1. kalau engkau merasakan was-was, katakan : “ Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya “. Dari Aisyah radhiallahu’anha, sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda : “ Sesungguhnya salah satu diantara kamu akan didatangi syetan dan bertanya : “ Siapa yang menciptaknmu ?? dijawab : “ Allah “. Sampai dia akan bertanya : “ Siapa yang menciptakan Allah ??!!, ketika didapai salah satu diantara kamu pertanyaan seperti itu, maka katakanlah : “ Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena hal itu bisa menghilangkannya “. HR. Ahmad no : 25671 dan dihasankan oleh Al-Bany di shohehnya No : 116
2. berusaha menghindari dari pemikiran seperti itu semaksimal mungkin dan menyibukkan diri yang bisa melalaikan akan hal tersebut.
Sebagai kata penutup, kami nasehatkan untuk senantiasa kembali kepada Allah dalam segala kondisi, meminta pertolongan, mengaduh dengan sungguh-sungguh dan memohon supaya bisa konsisten sampai meninggal dunia, dan diakhiri dengan amalan sholehat .
wallahu a’lam.

Minggu, 06 November 2011

Tuntunan Bertaubat kepada Allah SWT oleh Dr. Yusuf al Qaradhawi

Unsur-unsur Taubat

Terma dari akar kata "t-w-b" dalam bahasa Arab menunjukkan pengertian: pulang dan kembali. Sedangkan taubat kepada Allah SWT berarti pulang dan kembali ke haribaan-Nya serta tetap di pintu-Nya.
Karena pada dasarnya manusia harus bersama Allah SWT dan selalu berhubungan dengan-Nya, dan tidak menjauhi-Nya. Manusia tidak dapat membebaskan diri dari Allah SWT untuk memikirkan kehidupan fisiknya saja, juga tidak dapat membebaskan dirinya dari Allah SWT karena memikirkan kebutuhan hidup ruhaninya saja. Bahkan kebutuhannya kepada Allah SWT di akhirat akan lebih besar dari kebutuhannya di dunia. Karena kehidupan dan kebutuhan fisik itu secara bersamaan juga dilakukan oleh binatang yang tidak dapat berpikir, sementara kebutuhnan ruhani adalah sisi yang menjadi ciri pembeda manusia dari hewan dan binatang.
Allah SWT telah menciptakan manusia dari dua unsur. Di dalam tubuhnya terdapat unsur tanah, juga unsur ruh. Inilah yang menjadikannya layak dijadikan objek sujud oleh malaikat sebagai penghormatan dan pemuliaan kedudukannya. Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". Maka apabila telah Ku sempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." QS. Shaad: 71-72..
Allah SWT tidak memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada Adam kecuali setelah Allah SWT memperbagus bentuknya dan meniupkan ruh ke dalam tubuhnya.
Ketika manusia ta'at kepada Rabbnya berarti tiupan ruh itu mengalahkan sisi tanahnya. Atau dengan kata lain, sisi ruhani mengalahkan sisi materi. Dan sisi Rabbani mengalahkan sisi tanah yang rendah. Maka manusia meningkat dan mendekat kepada Rabbnya, sesuai dengan usahanya untuk meningkatkan sisi ruhaninya ini.
Ketika manusia berbuat maksiat terhadap Rabbnya, maka posisi itu terbalik; sisi tanah mengalahkan sisi ruh, dan sisi materi yang rendah mengalahkan sisi Rabbani yang tinggi. Maka manusia merendah dan menjadi lebih hina, serta menjauh dari Allah SWT sesuai dengan seberapa jauh dosa dan kemaksiatan yang ia lakukan.
Kemudian taubat memberikan kesempatan kepadanya untuk mencapai apa yang tidak ia dapatkan, serta meluruskan kembali perjalanan hidupnya. Maka manusia itupun kembali menaik setelah kejatuhannya, dan mendekat kepada Rabbnya setelah ia menjauhi-Nya, serta kembali kepada-Nya setelah memberontak dari-Nya.

Taubat Nasuha

Taubat yang diperintahkan agar dilakukan oleh kaum mu'minin adalah taubat nasuha (yang semurni-murninya) seperti disebut dalam Al Quran:
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya." QS. at-Tahrim: 8
Kemudian apa makna taubat nasuha itu.
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya: "artinya adalah, taubat yang sebenarnya dan sepenuh hati, akan menghapus keburukan-keburukan yang dilakukan sebelumnya, mengembalikan keaslian jiwa orang yang bertaubat, serta menghapus keburukan-keburukan yang dilakukannya."
Sedangkan nasuha adalah redaksi hiperbolik dari kata nashiih. Seperti kata syakuur dan shabuur, sebagai bentuk hiperbolik dari syakir dan shabir. Dan terma "n-sh-h" dalam bahasa Arab bermakna: bersih. Dikatakan dalam bahasa Arab: "nashaha al 'asal" jika madu itu murni, tidak mengandung campuran. Sedangkan kesungguhan dalam bertaubat adalah seperti kesungguhan dalam beribadah. Dan dalam bermusyawarah, an-nush itu bermakna: membersihkannya dari penipuan, kekurangan dan kerusakan, dan menjaganya dalam kondisi yang paling sempurna. An nush-h (asli) adalah lawan kata al-gisysy-(palsu).
Pendapat kalangan salaf berbeda-beda dalam mendefinisikan hakikat taubat nasuha itu. Hingga Imam Al Qurthubi dalam tafsinrya menyebut ada dua puluh tiga pendapat. (Lihat: Tafsir al Qurthubi ayat ke delapan dari surah at Tahrim). Namun sebenarnya pengertian aslinya hanyalah satu, tetapi masing-masing orang mengungkapkan kondisi masing-masing, atau juga dengan melihat suatu unsur atau lainnya.
Ibnu Jarir, Ibnu Katsir dan Ibnu Qayyim menyebutkan dari Umar, Ibnu Mas'ud serta Ubay bin Ka'b r.a. bahwa pengertian taubat nasuha: adalah seseorang yang bertaubat dari dosanya dan ia tidak melakukan dosa itu lagi, seperti susu tidak kembali ke payudara hewan. Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud dengan marfu': taubat dari dosa adalah: ia bertaubat darinya (suatu dosa itu) kemudian ia tidak mengulanginya lagi." Sanadnya adalah dha'if. Dan mauquf lebih tepat, seperti dikatakan oleh Ibnu Katsir.
Hasan Al Bashri berkata: taubat adalah jika seorang hamba menyesal akan perbuatannya pada masa lalu, serta berjanji untuk tidak mengulanginya.
Al Kulabi berkata: Yaitu agar meminta ampunan dengan lidah, menyesal dengan hatinya, serta menjaga tubuhnya untuk tidak melakukannnya lagi.
Sa'id bin Musayyab berkata: taubat nasuha adalah: agar engkau menasihati diri kalian sendiri.
Kelompok pertama menjadikan kata nasuha itu dengan makna maf'ul (objek) yaitu orang yang taubat itu bersih dan tidak tercemari kotoran. Maknanya adalah, ia dibersihkan, seperti kata raquubah dan haluubah yang berarti dikendarai dan diperah. Atau juga dengan makna fa'il (subjek), yang bermakna: yang menasihati, seperti khaalisah dan shaadiqah.
Muhammad bin Ka'b al Qurazhi berkata: taubat itu diungkapkan oleh empat hal: beristighfar dengan lidah, melepaskannya dari tubuh, berjanji dalam hati untuk tidak mengerjakannya kembali, serta meninggalkan rekan-rekan yang buruk. (Madaarij Saalikiin : 1/ 309, 310. Cetakan As Sunnah Al Muhammadiyyah, dengan tahqiq Syaikh Muhammad Hamid al Faqi. Dan tafsir Ibnu Katsir : 4/ 391, 392).

Sekadar Bicara Taubat dengan Lidah Bukan Taubat

Taubat tidak sekadar mengucapkan dengan lidah, seperti dipahami oleh kalangan awam. Ketika salah seorang dari mereka datang kepada seorang tokoh agama ia berkata kepadanya: "Pak kiyai, berilah taubat kepada saya". Kiyai itu akan menjawab: "ikutilah perkataanku ini!": "aku taubat kepada Allah SWT, aku kembali kepada-Nya, aku menyesali dosa yang telah aku lakukan, dan aku berjanji untuk tidak melakukan maksiat lagi selamanya, serta aku membebaskan diri dari seluruh agama selain agama Islam".
Dan ketika ia telah mengikuti ucapan kiyai itu dan pulang, ia menyangka bahwa ia telah selesai melakukan taubat!.
Ini adalah bentuk kebodohan dua pihak sekaligus: kebodohan orang awam itu, serta sang kiyai juga. Karena taubat bukan sekadar ucapan dengan lidah saja, karena jika taubat hanya sekadar berbuat seperti itu, alangkah mudahnya taubat itu.
Taubat adalah perkara yang lebih besar dari itu, dan juga lebih dalam dan lebih sulit. Ungkapan lisan itu dituntut setelah ia mewujudkannya dalam tindakannya. Untuk kemudian ia mengakui dosanya dan meminta ampunan kepada Allah SWT. Sedangkan sekadar istighfar atau mengungkapkan taubat dengan lisan --tanpa janji dalam hati-- itu adalah taubat para pendusta, seperti dikatakan oleh Dzun Nun al Mishri. Itulah yang dikatakan oleh Sayyidah Rabi'ah al 'Adawiyah: "istighfar kita membutuhkan istighfar lagi!" Hingga sebagian mereka ada yang berkata: "aku beristighfar kepada Allah SWT dari ucapanku: 'aku beristighfar kepada Allah SWT'". Atau taubat yang hanya dengan lisan, tidak disertai dengan penyesalan dalam hati!
Sementara hakikat taubat adalah perbuatan akal, hati dan tubuh sekaligus. Dimulai dengan perbuatan akal, diikuti oleh perbuatan hati, dan menghasilkan perbuatan tubuh. Oleh karena itu, al Hasan berkata: "ia adalah penyesalan dengan hati, istighfar dengan lisan, meninggalkan perbuatan dosa dengan tubuh, dan berjanji untuk tidak akan mengerjakan perbuatan dosa itu lagi."

Taubat Seperti Dijelaskan oleh Al Ghazali

Taubat seperti dijelaskan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya "Ihya ulumuddin" adalah sebuah makna yang terdiri dari tiga unsur: ilmu, hal dan amal. Ilmu adalah unsur yang pertama, kemudian yang kedua hal, dan ketiga amal.
Ia berkata: yang pertama mewajibkan yang kedua, dan yang kedua mewajibkan yang ketiga. Berlangsung sesuai dengan hukum (ketentuan) Allah SWT yang berlangsung dalam kerajaan dan malakut-Nya.
Ia berkata: "Sedangkan ilmu adalah, mengetahui besarnya bahaya dosa, dan ia adalah penghalang antara hamba dan seluruh yang ia senangi. Jika ia telah mengetahui itu dengan yakin dan sepenuh hati, pengetahuannya itu akan berpengaruh dalam hatinya dan ia merasakan kepedihan karena kehilangan yang dia cintai. Karena hati, ketika ia merasakan hilangnya yang dia cintai, ia akan merasakan kepedihan, dan jika kehilangan itu diakibatkan oleh perbuatannya, niscaya ia akan menyesali perbuatannya itu. Dan perasaan pedih kehilangan yang dia cintai itu dinamakan penyesalan. Jika perasaan pedih itu demikian kuat berpengaruh dalam hatinya dan menguasai hatinya, maka perasaan itu akan mendorong timbulnya perasaan lain, yaitu tekad dan kemauan untuk mengerjakan apa yang seharusnya pada saat ini, kemarin dan akan datang. Tindakan yang ia lakukan saat ini adalah meninggalkan dosa yang menyelimutinya, dan terhadap masa depannya adalah dengan bertekad untuk meninggalkan dosa yang mengakibatkannya kehilangan yang dia cintai hingga sepanjang masa. Sedangkan masa lalunya adalah dengan menebus apa yang ia lakukan sebelumnya, jika dapat ditebus, atau menggantinya.
Yang pertama adalah ilmu. Dialah pangkal pertama seluruh kebaikan ini. Yang aku maksudkan dengan ilmu ini adalah keimanan dan keyakinan. Karena iman bermakna pembenaran bahwa dosa adalah racun yang menghancurkan. Sedangkan yakin adalah penegasan pembenaran ini, tidak meragukannya serta memenuhi hatinya. Maka cahaya iman dalam hati ini ketika bersinar akan membuahkan api penyesalan, sehingga hati merasakan kepedihan. Karena dengan cahaya iman itu ia dapat melihat bahwa saat ini, karena dosanya itu, ia terhalang dari yang dia cintai. Seperti orang yang diterangi cahaya matahari, ketika ia berada dalam kegelapan, maka cahaya itu menghilangkan penghalang penglihatannya sehingga ia dapat melihat yang dia cintai. Dan ketika ia menyadari ia hampir binasa, maka cahaya cinta dalam hatinya bergejolak, dan api ini membangkitkan kekuatannya untuk menyelamatkan dirinya serta mengejar yang dia cintai itu.
Ilmu dan penyesalan, serta tekad untuk meninggalkan perbuatan dosa saat ini dan masa akan datang, serta berusaha menutupi perbuatan masa lalu mempunyai tiga makna yang berkaitan dengan pencapaiannya itu. Secara keseluruhan dinamakan taubat. Banyak pula taubat itu disebut dengan makna penyesalan saja. Ilmu akan dosa itu dijadikan sebagai permulaan, sedangkan meninggalkan perbuatan dosa itu sebagai buah dan konsekwensi dari ilmu itu. Dari itu dapat dipahami sabda Rasulullah Saw : " Penyesalan adalah taubat" (Hafizh al 'Iraqi dalam takhrij hadits-hadits Ihya Ulumuddin berkata: hadits ini ditakhrijkan oleh Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al Hakim. Serta ia mensahihkan sanadnya dari hadits Ibnu Mas'ud. Dan diriwayakan pula oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim dari hadits Anas r.a. dan ia berkata: hadits ini sahih atas syarat Bukhari dan Muslim), karena penyesalan itu dapat terjadi dari ilmu yang mewajibkan serta membuahkan penyesalan itu, dan tekad untuk meninggalkan dosa sebagai konsekwensinya. Maka penyesalan itu dipelihara dengan dua cabangnya, yaitu buahnya dan apa yang membuahkannya." (Ihya Ulumuddin (4: 3,4), cetakan: Darul Ma'rifah, Beirut).

Sabtu, 05 November 2011

Ketika semua ilmu tentang sabar, ikhlas, dan taat hilang dibakar amarah

Ketika semua ilmu tentang sabar, ikhlas, dan taat hilang dibakar amarah. Ketika itulah dunia terasa sangat sempit dan membosankan. Padahal Rasulullah selalu mengingatkan, laa taghdab..laa taghdaab! Jangan marah..jangan marah. Dahsyatnya amarah bisa membuat banyak hati terluka, pertikaian, perceraian, perpisahan, dan damapak buruk lainnya.

Kita semua tahu, manusia itu tempatnya salah. Sehingga kita tidak seharusnya banyak bergantung kepada suami, istri, orangtua, dan keluarga kita. Kita harus berdiri di atas kaki sendiri dan bergantung pada Allah SWT. Manusia di dunia hanyalah partner untuk berbuat baik. Seperti firman Allah SWT dalam Alqur’an bahwa Dia tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya.

Para psikolog bilang tidak ada masalah yang tidak bisa dikomunikasikan. Nah, inilah seni yang tidak semua orang memilikinya. Seni komunikasi! Banyak kesalahpahaman yang terjadi karena kurangnya komunikasi. Kalau ini tidak dimiliki mungkin kita harus memiliki stok sabar yang banyak agar bisa memahami dan mengerti orang lain. Kalau ini juga tidak dimiliki, banyak-banyak doa pada Allah SWT karena doa itu adalah senjatanya orang beriman.