Kamis, 31 Desember 2009

Adab ketika akan bertemu denan orang lain

Adab erat kaitannya dengan perilaku. Biasanya adab berhubungan dengan latar budaya seseorang. Banyak kisah yang menceritakan bagaimana seseorang harus memperhatikan masalah adab maupun mengetahui budaya yang ada di sekitarnya. Budaya yang berbeda dapat menyebabkan kesalahpahaman antar sesama.

Dalam lembar sejarah Islam, kita mengetahui bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan para sahabatnya tentang tatakrama, mulai memberi salam, makan hingga berkunjung ke tempat orang lain. Rasulullah juga mempersiapkan salah seorang sahabatnya bila akan diutus menjadi duta ke suatu wilayah dengan menyuruhnya memperhatikan perilaku dan budaya yang berlaku disana. Oleh karena itu kita mengenal duta Islam pertama yaitu Mus’ab bin Umair. Beliau diutus untuk mempersiapkan hijrahnya Rasulullah SAW. Keberhasilan Mus’ab ini dapat dilihat dari masuknya seluruh masyarakat Madinah menyambut seruan itu dan bahkan menanti-nanti kedatangan Rasulullah SAW untuk tinggal bersama mereka. Selanjutnya terbukti bahwa penduduk Madinah menjadi penyokong utama da’wah Rasulullah SAW di kemudian hari.

Sebagai seorang muslim, adab dan perilaku dapat menjadi alat untuk berda’wah. Oleh karena itulah adab dan perilaku kita merujuk kepada Rasulullah SAW, karena dialah yang menjadi panutan umat Islam. Adab juga merupakan hasil dari pemahaman dan pengamalan kita terhadap nilai-nilai Islam yang kita ketahui. Dari lembar siroh kita dapat mengetahui bahwa kemuliaan akhlaq dan perilaku ini dapat melunakkan hati bahkan mengajak seseorang masuk ke dalam Islam dengan kesadarannya sendiri. Kisah seorang wanita yahudi yang selalu meludahi Rasulullah SAW setiap akan sholat ke Masjidil Haram kemudian tergerak hatinya masuk Islam karena Rasulullah SAW-lah yang pertama menjenguknya ketika dia sakit. Dari adab inilah cahaya Islam terpancar. Keutamaan dan kemuliaan Islam akan bersinar melalui adab-adab yang dimiliki umatnya.


Adab ketika akan bertemu dengan orang lain

Adab berpenampilan

Rasulullah SAW memberikan nasehat bagaimana seorang muslim berpenampilan: “Sesungguhnya kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian (sesama muslim), maka perbaikilah kondisi perjalanan kalian, perindahlah pakaian kalian sehingga keadaan kalian seakan-akan wangi dalam pandangan manusia karena Allah tidak menyukai kejorokan dan sikap jorok.” (HR. Abu Daud)

Rasulullah SAW juga memberi peringatan bagi seseorang yang tidak memperhatikan penampilannya ketika akan bertemu dengan orang lain, sabdanya: “Rasulullah datang berkunjung kepada kamikemudian beliau melihat seorang laki-laki yang pakainnya kotor lantas beliau bersabda, “Apakah orang ini tidak mendapatkan sesuatu untuk mencuci pakaiannya.” (HR. Imam Ahmad dan Nasa’i)

Adab menjaga kebersihan mulut

Masalah pakaian dan bau mulut ternyata bagian perhatian yang perlu dijaga. Rasulullah bersabda, “Kalau sekiranya aku tidak khawatir memberatkan umatku, maka pastilah akan aku perintahkan kepada mereka bersiwak (menggosok gigi) setiap kali hendak wudhu.” (HR. Muslim)

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memakan bawang merah, putih dan kurats (sejenis makanan yang meninggalkan bau yang menyengat), maka janganlah ia sekali-kali ia mendekati masjid. Malaikat merasa terganggu apa-apa yang mengganggu anak Adam.” (HR. Muslim)

Bahkan bagi setiap laki-laki disunnahkan mandi dan memakai minyak wangi sebelum pergi sholat jum’at. Untuk kondisi sehari-hari Rasulullah mencontohkan bagaimana ia selalu menjaga kebersihan dan keharuman badannya. Dalam hal ini Anas bin Malik ra. berkata, “Aku tidak pernah sama sekali mencium ambar dan mistik (aroma wewangian) yang lebih wangi dari yang tercium dari tubuh Rasulullah SAW.” (HR. Muslim)

Menjaga kebersihan rambut dan badan

Rasulullah SAW memerintahkan kepada kaum muslimin untuk menjaga rambut mereka. Sabdanya, “Siapa-siapa yang memiliki rambut maka hendaklah ia menghormatinya.” (HR. Abu Daud). Maksud menghormati disini ialah membersihkannya (mencuci rambut), menyisirnya, memakaikan wewangian dan memperindah bentuk dan penampilannya.

Dalam hal membersihkan badan secara keseluruhan, Rasulullah SAW mengingatkan batas minimalnya. “Adalah merupakan hak atas seorang muslim ketika mandi dalam seminggu, agar sehari daripadanya ia membasahi kepala (keramas) dan badannya.” (mutafaqu’alaih)

Hadits diatas mengingatkan kita untuk membersihkan kepala kita dalam sepekan sehingga kepala dan kulit kepala kita bersih dan wangi sebagaimana tubuh kita.


Adab pergaulan sehari-hari

Adab meminta izin untuk masuk ke rumah orang lain

Islam sangat menghargai privacy seseorang. Oleh karena itu seorang muslim ketika akan berkunjung hendaklah memperhatikan masalah ini.
Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mendatangi rumah-rumah itu dari depan melainkan dari samping-sampingnya. Maka minta izinlah dan jika diizinkan bagi kalian maka masuklah, kalau tidak mendapat izin pulanglah.” (HR. Thabrani)

Mengucapkan salam

“Apabila salah seorang kalian sampai pada suatu majelis maka hendaklah ia mengucapkan salam, sebab bukanlah yang pertama lebih berhak dari yang terakhir.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi ia berkata hasan)

Adab dalam majelis

a. Hendaklah salah seorang mereka duduk di tempat yang mereka dapatkan di majelis tanpa merasa kurang dihormati/diremehkan. (HR. Abu Daud)

b. Tidak boleh dua orang yang sedang berbicara disela, kecuali dengan izin dari keduanya. (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi)

c. Bila majelis itu penuh dan tidak ada tempat bagi yang baru datang maka Rasulullah menyuruh mereka untuk melonggarkan dan merapatkan diri agar orang tersebut dapat tempat. (HR. Al Khamsah)

d. Jika majelis tersebut bersifat khusus dan membicarakan masalah khusus, maka Rasulullah melarang orang lain bergabung dalam majelis tersebut.

e. Diantara adab majelis adalah hendaknya tidak menempati tempat duduk seseorang yang meninggalkannya sementara ada keperluan. (HR. Muslim)

f. Hendaknya dua orang tidak berbisik-bisik tanpa meminta izin dari orang ketiga karena akan membuat orang ketiga itu sakit hati/sedih. (HR. Bukhari dan Muslim)

Adab Makan

a. Membaca basmalah
b. Makan dengan tangan kanan
c. Memakan dari sisi yang depan
d. Tawadhu ketika makan
e. Tidak boleh mencela makanan
f. Tidak meniup makanan yang masih panas
g. Mencuci tangan sebelum makan dan sesudah makan

Adab Minum

a. Minum dengan tangan kanan
b. Minum sambil duduk
c. Berdo’a sebelum dan sesudah makan
d. Mendahulukan orang di sebelah kanan
e. Diharamkan makan dan minum dari wadah yang terbuat dari emas dan perak

Tata cara makan dan minum di tempat orang lain

a. Datang karena diundang
b. Tidak membawa orang yang tidak diundang
c. Menjaga harga diri
d. Berdo’a untuk pemilik hidangan
e. Bersegera pulang setelah menghadiri acara (tidak berlama-lama)

Dalam pergaulan sehari-hari ada beberapa yang perlu diperhatikan:

a. Mengucapkan dan menjawab salam
b. Berjabat tangan (hanya untuk sesama jenis)
c. Khalwah tidak diperkenankan karena menimbulkan fitnah


Referensi :

1. Musthofa Muhammad Thahan, Pribadi Muslim Tangguh
2. Ziyad Abbas (ed.) Pilihan Hadits Politik, Ekonomi dan Sosial
3. Muhammad Ali Hasyimi, Apakah Anda Berkepribadian Muslim
4. Isnet, Urgensi Akhlaq 1
5. Materi Training Manajemen Da’wah Muslimah, “Peran Muslimah dalam Da’wah”

Sumber : http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=54450504865&ref=nf

Selasa, 29 Desember 2009

Puisi Cinta Untuk Istriku

Senyummu adalah bahagiaku

Ceriamu adalah dambaku

Gelisahmu adalah kebimbanganku

Air matamu adalah kesedihanku

Kau pelipur lara dukaku

Kau pengiring suka citaku

Bersama kita dalam hari-hari keberkahan

Ikatan ini berawal dari hati atas nama cinta

Jalinan ini bermula dari rasa atas nama sayang

Pertautan ini berasal dari angan atas nama rindu

Sungguh ini adalah cinta, sayang, dan rindu..

Cinta, sayang, dan rindu atas nama pengabdian kepada Rabbul Izzati

Malam ini bintang bersinar cinta, bulan tersenyum sayang, angin mendesir rindu

Wahai bintang, bulan dan angin

Sampaikanlah salam cinta, sayang, dan rinduku kepadanya

“Sungguh Aku Sangat mencintaimu karena Allah”

Senin, 28 Desember 2009

Menantang Kemampuan untuk Berfikir Besar

Konon dalam perdagangan organ otak internasional, organ otak orang Indonesia paling mahal harga. Kalau otak milik orang Jerman, Jepang, dan lainnya dihargai sangat murah karena selama hidupnya sudah digunakan sampai habis-habisan. Jadi sudah soak. Sementara otak orang Indonesia itu masih orisinil karena selama hidupnya jarang digunakan. :D

Bukan maksud saya ingin meledek bangsa sendiri, saya bangga sebagai orang Indonesia, karena sebenarnya orang Indonesia itu sangat-sangat kreatif. Dan sebenarnya sangat-sangat layak memimpin DUNIA. Barangkali kalau boleh menyalahkan, lingkunganlah yang membuat otak kita jarang dipakai. Obatnya cuma satu, kita sendiri yang harus mengoptimalkan otak kita.

Selama beberapa minggu ini saya kurang aktif menanggapi tanggapan dan komentar teman-teman pembaca di blog saya. Karena ada beberapa yang cukup menjengkelkan karena sudah ada jawabannya, masih juga ditanyakan. Saya cuma bisa ngelus dada dan bilang A.B.C.D!! (Aduh Booo Capek Dech) ha.. ha.. ha..

Sementara ada yang membuat saya merasa tertantang, beberapa pertanyaan dan komentar pembaca saya pikir sangat berbobot dan membuat saya mengernyitkan dahi. Terus terang saya merasa, kayaknya para pembaca lebih pinter dari saya dech. Suweerrr….. Aduh koq masih pada nanya sama saya yang masih segini-segini aja, he.. he.. he..

Yang saya lakukan, saya banyak melakukan brainstorming, sekalian untuk memikirkan kemajuan usaha saya. Juga membaca literatur, buku, ebook untuk mengisi ruang kosong di rongga tengkorak saya. Tidak lupa beberapa link di google mengarahkan saya pada audiobook dari tokoh-tokoh terkenal yang sepertinya menjadi vitamin baru buat otak saya.

Satu hal yang menjadi pikiran saya terus terpacu, sepertinya selama ini, kita (saya khususnya) masih sangat takut untuk BERPIKIR BESAR ya. Kita mungkin sudah memikirkan bagaimana untuk secepatnya keluar kerja dan punya usaha yang omsetnya milyaran rupiah. Dan kita sudah menganggap itu adalah PIKIRAN BESAR iya kan.

Tapi saat berkaca pada para mentor virtual saya (para penulis buku dan tokoh dalam audiobook) sepertinya pikiran yang sudah saya nobatkan sebagai PIKIRAN BESAR tersebut, ternyata belum ada apa-apanya.

Saya juga jadi ingat pesan Pak Agus dari Action Coach waktu saya mendapat konsultasi di Action, “kita itu kalau berpikir bisnis, cuma bisa memikirkan pasar di sekitar toko kita saja, cobalah untuk memikirkan dunia sebagai pasarnya”. Hmmmm barangkali kita harus menanamkan pikiran yang lebih besar lagi ya, misalnya “Bagaimana saya bisa menaklukkan dunia?”. Isn’t that interesting. Yuk kita regangkan lagi otot-otot otak kita, kita buka lagi pembuluh-pembuluhnya, untuk memberi ruang bagi PIKIRAN-PIKIRAN yang lebih BUESAR lagi.

Minggu, 27 Desember 2009

Musyawarah Dan Adab-Adab Dalam Musyawarah

Maulana ilyas rah.a berkata “Musyawarah adalah perkara yang besar.Allah Swt berjanji apabila kalian duduk ber Musyawarah dan bertawakal kepada Allah Swt ,maka sebelum kalian berdiri ,kalian akan mendapat taufik ke jalan yang lurus.”

Musyawarah adalah azas dari usaha dakwah ini yang akan menjadi ruh dalam setiap pengorbanan.pengorbanan tanpa Musyawarah akan sia-sia.tanpa Musyawarah maka ijtima “iyyat kerja akan hilang dan pertolongan Allah Swt.Akan menjauh,karena nusralullah akan datang melalui kebersamaan umat ini.

Musyawarah adalah pengganti turunyya wahyu yang tidak akan turun lagi ,usaha ini tidak mengharap bantuan dari dunia tetepi semata-mata hanya pertolongan dari Allah Swt.Dengan Musyawarah kesatuan hati akan terwujud dan akan meningkatkan pikir.

Ijima iyyat bukan berkumpulnya sekelompok orang,tetapi adanya kesatuan hati,pikir,dan gerak sebagai mana dalam shalat berjamaah.ketika shalat seluruh jamaah satu hati (tawajuh),satu pikir (khusyu) dan satu gerak dan ini akan terwujud jika memiliki sipat itsar (mengutamakan orang lain daripada diri sendiri) dan tawadhu (merasa orng lain lebih baik daripada diri sendiri).

Maulana I”namul rah a berkata :

- Musyawarah adalah berkumpul ,berpikir dan mentaaati keputusan.seluruh anbiya a.s biasa duduk dan berpikir.Rasullullah Saw masuk ke gua hira duduk berpikir dan menerima wahyu.dimana ada kerisauan disitu ada petunjuk Allah Swt.

- Karena seekor ayam mau mujahadah duduk mengerami telurnya maka telurnya pun mendapat ruh dan hidup sehingga jika kita mau duduk dalam Musyawarah maka Allah Swt akan bukakan jalan pemecahan.

- Sebelum waktu Musyawarah diadakan para ahli musyawarah banyak berdoa dan menangis agar Allah Swt memberikan keputusan terbaik dan tetap tawajjuh dalam Musyawarah.apabila di dalam Musyawarah terjadi kerusakan ini maka keruakan ini akan akan wujud ke seluruh alam.

- Kerja ini adalah kerja Nabi Rasullullah Saw tidak bekerja sendirian tetapi bekerjasama dengan para sahabat r.a sehingga mereka semua mendapat tarbiyah dari Allah Swt maka betulkan niat hanya mencari keridhaanNya agar Allah Swt memberi tarbiyah yang sama.

- sasaran Musyawarah adalah bagaimana agar setiap usulan dengan mudah dan senang hati diterima oleh Musyawirin.setiap usul dan keputusan harus jelas terbentang di hadapan seluruh ahli Musyawarah agar tidak terjadi perpecahan dan selama hal itu merupakan yang terbaik untuk umat.

- Tidak menyimpan prasangka dalam Musyawarah , seluruhnya harus di bentangkan dan di ajukan. Bila banyak usulan yang muncul berarti pikir jamaah bertambah.

- Setan selalu berusaha menggoda manusia begitu pun dalam Musyawarah.Setan selalu menggoda untuk memberi usul dengan paksa.Setan brusaha agar kita memandang remeh usulan yang lain dan berusaha agar kita tidak ikhlas menerima keputusan

Musyawarah.

- Adapun usul yang muncul harus di tanggapi dengan hati lapang, bila tidak akan demikian orang tidak akan menganggap penting duduk dalam Musyawarah.

- Tidak memotong , meremehkan dan menertawakan usul orang lain.Rasullullah Saw berkata kepada Abu Bakar r.a”anggaplah diri kita hina pada setiap mengajukan usul seseorang jangan membicarakan keburukan susul seseorang di belakangnya.bertambah takutlah kepada Allah.bila usul di terima sebaliknya apabila usul tidak diterima bolleh merasa lega”.perbanyaklah bersyukur sepanjang Musyawarah jangan ada maksud yang lain ketika memberikan usul. Kemukakan lah usul semata-mata untuk kepentingan dien.maka Allah Swt akan menjadikan Musyawarah sebagai asbab tarbiyah bagi diri kita sendiri.

- Berpikirlah dengan sungguh –sungguh cari kecocokan antara tugas dan pelaksanaanya.jangan sampai orang diberi tugas merasa terbebani. Berikan usul yang terbaik,singkat,jelas dan mampu di amalkan.

ADAB – ADAB DALAM MUSYAWARAH

• Musyawarah di pimpin oleh seorang amir , sebaiknya amir shaf.sebelum musyawarah ,hendaknya amir mengosongkan hati dan pikirannya dadari rencana yang mungkin akan di putuskan dalam musyawarah.

• Musyawarah diawali dengan Basmalah , Hamdalah , Hendaknya masing – masing berdoa : “allahumma alhimna mara sida umurina wa adidna ming syururi angfusina wa ming syayiati a maalina”. Artinya : “ Ya Allah berilah kami petunjuk ( ilham ) apa yang menjadi urusan kami dan kami berlindung dari kejahatan diri kami dan keburukan perbuatan orang lain”.

• Zihin singkat untuk membentuk pikir para musyawirin tentang arti , maksud dan tujuan musyawarah.Timbulnya Jazbah pada setiap ahli musyawarah sehingga tidak ada yang merasa di perintah.

• Musyawirin menyampaikan Kargozari ( Laporan kegiatan program yang telah di lakukan ).

• Amir musyawarah meminta usul – usul mulai dari sebelah kanan ke sebelah kiri .Mengajukan usul usul yang terbaik dan setelah usul disampaikan , anggaplah usul orang lain yang terbaik.

• Apabila usul kita di terima segera ber istigfar , sebab mungkin saja usul itu mendatangkan mudharat bagi orang lain ,sebaliknya jika usulan kita di tolak maka ucapkan Alhamdulillah.

• Tidak memotong pembicaraan ( interupsi ),tunggulah orang lain selesai bicara dan tidak boleh menguatkan pendapat orang lain.

• Keputusan bukanlah pada suara yang terbanyak. Kebenaran hanya pada Allah dan Rasul-Nya.hendaknya keputusan sesuai dengan laporan ( kargozari ) atau data yang ada.

• Tidak mengajkan diri sendiri dalam suatu tugas , kecuali tugas Khidmat dan Mutakallim.

• Apabila keputusan telah di tetapkan ,maka ini adalah suatu amanah dari Allah SWT dan siap melaksanakannya ( sami”na wa athana ). Menerima keputusan musyawarah sebagai hadiah bukan sebagai beban.

• Apabila dari hasil musyawarah terjadi hal yang tidak diinginkan maka janganlah berandai – andai.hal ini akan menimbulkan peluang syetan untuk memecah hati kita.

• Perbedaan pendapat dalam musyawarah adalah rahmat tetapi beda pendapat di luar musyawarah adalah Laknat.

Antara mata dan hati

”Mata adalah panglima hati. Hampir semua perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata. Bila dibiarkan mata memandang yang dibenci dan dilarang, maka pemiliknya berada di tepi jurang bahaya. Meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh ke dalam jurang". Demikian potongan nasihat Imam Ghazali rahimahullah dalam kitab Ihya Ulumuddin.

Beliau memberi wasiat agar tidak menganggap ringan masalah pandangan. Ia juga mengutip bunyi sebuah sya’ir, "Semua peristiwa besar awalnya adalah mata. Lihatlah api besar yang awalnya berasal dari percikan api."

Hampir sama dengan bunyi sya’ir tersebut, sebagian salafushalih mengatakan, "Banyak makanan haram yang bisa menghalangi orang melakukan shalat tahajjud di malam hari. Banyak juga pandangan kepada yang haram sampai menghalanginya dari membaca Kitabullah."



Saudaraku,
Semoga Allah memberi naungan barakahNya kepada kita semua. Fitnah dan ujian tak pernah berhenti. Sangat mungkin, kita kerap mendengar bahkan mengkaji masalah mata. Tapi belum tentu kita termasuk dalam kelompok orang yang bisa memelihara pandangan mata. Padahal, seperti diungkapkan oleh Imam Ghazali tadi, orang yang keliru menggunakan pandangan, berarti ia terancam bahaya besar karena mata adalah pintu paling luas yang bisa memberi banyak pengaruh pada hati.

Menurut Imam Ibnul Qayyim, mata adalah penuntun, sementara hati adalah pendorong dan pengikut. Yang pertama, mata, memiliki kenikmatan pandangan. Sedang yang kedua, hati, memiliki kenikmatan pencapaian. "Dalam dunia nafsu keduanya adalah sekutu yang mesra. Jika terpuruk dalam kesulitan, maka masing-masing akan saling mecela dan mencerai," jelas Ibnul Qayyim. Pemenuhan hasrat pencapaian seringkali menjadi dasar motivasi yang menggebu-gebu untuk mendapatkan atau menikahi seseorang. Padahal siap nikah dan siap jadi suami/istri adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama, nuansa nafsu lebih dominan; sedangkan yang kedua, sarat dengan nuansa amanah, tanggung-jawab dan kematangan.

Saudaraku,
Simak juga dialog imajiner yang beliau tulis dalam kitab Raudhatul Muhibbin: "Kata hati kepada mata, "kaulah yang telah menyeretku pada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman dan kebun yang tak sehat. Kau salahi firman Allah, "Hendaklah mereka menahan pandangannya". Kau salahi sabda Rasulullah saw, "Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut pada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman padanya, yang akan didapati kelezatan dalam hatinya." (HR.Ahmad)

Tapi mata berkata kepada hati, "Kau zalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan mengikuti jalan yang engkau tunjukkan. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula. Dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati " (HR. Bukhari dan Muslim). Hati adalah raja. Dan seluruh tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik maka baik pula pasukannya. Jika rajanya buruk, buruk pula pasukannya. Wahai hati, jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu, dan kebaikan mereka adalah kebaikanmu . Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta pada Allah, tidak suka dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, asma dan sifat-sifatNya. Allah berfirman, "Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada". (QS.AI-Hajj:46)

Saudaraku,
Banyak sekali kenikmatan yang menjadi buah memelihara mata. Coba perhatikan tingkat-tingkat manfaat yang diuraikan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Jawabul Kafi Liman Saala Anid Dawa’i Syafi. "Memelihara pandangan mata, menjamin kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat. Memelihara pandangan, memberi nuansa kedekatan seorang hamba kepada Allah, menahan pandangan juga bisa menguatkan hati dan membuat seseorang lebih merasa bahagia, menahan pandangan juga akan menghalangi pintu masuk syaithan ke dalam hati.

Mengosongkan hati untuk berpikir pada sesuatu yang bermanfaat, Allah akan meliputinya dengan cahaya. Itu sebabnya, setelah firmanNya tentang perintah untuk mengendalikan pandangan mata dari yang haram, Allah segera menyambungnya dengan ayat tentang "nur", cahaya. (Al-Jawabul Kafi, 215-217)

Saudaraku,
Perilaku mata dan hati adalah sikap tersembunyi yang sulit diketahui oleh orang lain, kedipan mata apalagi kecenderungan hati, merupakan rahasia diri yang tak diketahui oleh siapapun, kecuali Allah swt, "Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati ". (QS. Al-mukmin:l9). Itu artinya, memelihara pandangan mata yang akan menuntun suasana hati, sangat tergantung dengan tingkat keimanan dan kesadaran penuh akan ilmuLlah (pengetahuan Allah) . Pemeliharaan mata dan hati, bisa identik dengan tingkat keimanan seseorang.

Saudaraku,
Dalam sebuah hadits dikisahkan, pada hari kiamat ada sekelompok orang yang membawa hasanat (kebaikan) yang sangat banyak . Bahkan Rasul menyebutnya, kebaikan itu bak sebuah gunung. Tapi ternyata, Allah swt tak memandang apa-apa terhadap prestasi kebaikan itu. Allah menjadikan kebaikan itu tak berbobot, seperti debu yang berterbangan. Tak ada artinya. Rasul mengatakan, bahwa kondisi seperi itu adalah karena mereka adalah kelompok manusia yang melakukan kebaikan ketika berada bersama manusia yang lain. Tapi tatkala dalam keadaan sendiri dan tak ada manusia lain yang melihatnya, ia melanggar larangan-larangan Allah (HR. Ibnu Majah)

Kesendirian, kesepian, kala tak ada orang yang melihat perbuatan salah, adalah ujian yang akan membuktikan kualitas iman. Di sinilah peran mengendalikan mata dan kecondongan hati termasuk dalam situasi kesendirian, karena ia menjadi bagian dari suasana yang tak diketahui oleh orang lain, "Hendaklah engaku menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya yakinilah bahwa Ia melihatmu". Begitu pesan Rasulullah saw. Wallahu’alam.

Sabar, Syukur dan Ilmu

Bersyukurlah atas segala curahan nikmat Allah yang tak pernah berhenti dan tak pernah bisa dihitung. Tanam dan lipatgandakan kesabaran atas segala ujian dan kesulitan yang kita alami.

Saudaraku,
Syukur dan sabar, dua senjata paling ampuh dalam mengarungi gelombang hidup. Gelombang hidup yang selalu menguji ketangguhan iman. Gelombang hidup yang tak selalu sama antara harapan dan kenyataan. Syukuri segala karunia, kenikmatan, kemudahan, kesehatan, kelapangan dari Allah Yang Maha Pemberi Rah-mat. Sabar terhadap segala kepahitan, kesulitan, kesempitan, dan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan. Menurut Rasulullah saw, syukur dan sabarlah yang akan menjadikan keadaan apapun menjadi baik. “Dan dua sikap itu, tidak akan terjadi kecuali pada diri orang yang beriman," ujar Rasulullah saw.

Saudaraku, semoga rahmat Allah senantiasa tercurah pada kita semua…
Kita semua, punya kesempatan sama. Allah merengkuh semua makhluk-Nya dengan ke Maha Luasan Rahmat-Nya yang tak terbatas. Di hadapan kita semua, juga terbentang alternatif yang sama. Kita, dipersilahkan memilih satu di antara dua jalan. Kitalah yang memilihnya, antara jalan fujur (dosa) atau jalan yang mengarah pada takwa, Tak pernah ada keadaan yang memaksa kita melakukan kesalahan, Tak pernah ada juga kondisi yang memaksa kita melakukan kebaikan, Semuanya berpulang pada diri kita sendiri.

Saudaraku, merenunglah sejenak.
Mungkin kita tahu, sebuah keadaan yang akan mengarahkan kita pada bahaya. Kita juga mungkin tahu, rambu jalan yang akan mengajak kita pada sebuah kesalahan. Tahu, bahwa seandainya jalan itu yang kita tempuh maka hulunya adalah dosa. Tapi, sekadar tahu, tidak menjadikan seseorang memiliki kualitas amal yang lebih baik. Sekadar tahu memang tak menjadi syarat kebaikan seseorang. Ilmu pengetahuan seseorang tentang kebaikan, tentang kebenaran, tentang agama, tidak selalu menjadikannya pasti mendapatkan hidayah.

Ini bukan penghinaan pada ilmu. Karena ilmu pengetahuan, tetap menjadi pilar penting yang menentukan amal seseorang. Tanpa pengetahuan, amal akan sia-sia. Bukan sampai di situ, tanpa ilmu suatu amal bisa memberi mu dharat dan bahaya. Ilmu juga yang menjadikan seseorang lebih mudah menangkap sinyal hidayah. Kemudian membimbing seseorang untuk melakukan kebaikan. Artinya, ilmu pengetahuan memang penting untuk siapapun.

Tapi ilmu tidak menjadi jaminan seseorang menjadi shalih. Ilmu pengetahuan tak pernah menjadi taruhan bahwa seseorang akan menjalani kehidupan ini dengan baik dan mendapat kebahagiaan di akhirat. Para ulama kerap menyebut istilah kekeliruan orang orang berilmu itu dengan istilah zallatul ‘alim. Dengarkanlah perkataan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, “Sebuah jaman akan dirusak oleh tiga hal, para pemimpin yang sesat, perdebatan mengenai Al Qur’an dan zallatul ‘alim (terpelesetnya seorang ‘alim).”

Karenanya para salafus shalih tetap menekankan kewaspadaan dan kehati-hatian terhadap perkataan seorang ‘alim. Muadz bin Jabal ra juga pernah mengatakan, “Hati-hatilah kalian dengan kekeliruan seorang ‘alim, karena syaitan bisa saja mengatakan kesesatan rnelalui lisan seorang alim. Sementara di sisi lain, bisa saja seorang munafik mengatakan kalimat yang hak. Ambillah yang hak itu dari mana saja datangnya. Karena dalam kebenaran itu terdapat cahaya. (Musafir fi Qithari Da’wah).

Saudaraku,
Para ahli ilmu, para ulama, tetap saja para manusia yang sama seperti kita. Dan mereka – sebagaimana kita- juga manusia yang tentu memiliki kekurangan dan kesalahan. Bayang-kanlah perkataan seorang tabi’in yang sangat memperhatikan dan meniru dua ulama besar di jamannya, Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin. Suatu ketika ia berpesan pada anaknya, “Anak-ku, tirulah kebaikan Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin. Jangan kau tiru keburukannya, Jika engkau mengetahui keburukan yang ada pada diri Hasan Al-Bashri, dan keburukan yang ada pada Ibnu Sirin, niscaya engkau menghimpun semua keburukan."

Saudaraku,
Kapasitas dan kedudukan ilmu seseorang tak bisa disejajarkan dengan orang awam dalam
perilaku dosa dan kesalahan. Dosa yang dilakukan orang yang berilmu, bahkan bisa lebih berbahaya ketimbang orang yang tak memiliki ilmu. Menurut Imam Al Ghazali, "Dosa seorang alim bisa saja kecil tapi bahayanya bisa menjadi besar. Dosa seorang ‘alim tidak terputus sampai ia wafat. Alasannya jelas, karena kesalahan orang yang telah mengetahui kebaikan dan keburukan, akan menjadi inspirasi yang tidak baik bagi orang awam dalam kurun beberapa lama." Karenanya, Imam Al-Ghazali melanjutkan, "Beruntunglah orang yang dosa-dosanya terhenti bersamanya saat ia meninggal dunia." (Muwafaqat, Syatibi, 4/169)

Bersyukurlah jika kita termasuk orang yang dikaruniai pengetahuan tentang kebaikan. Bersyukurlah jika kita dibimbing oleh Allah untuk mengenal rambu-rambu kebaikan dan kesalahan. Bersyukurlah jika kita, dengan segala keterbatasan, dimasukkan dalam kelompok orang-orang yang lebih mengenal tuntunan Islam ketimbang orang yang lain. Orang berilmu tak selalu dimiliki dari mereka yang berpredikat ulama. Sedikit maupun banyaknya ilmu yang kita miliki, harus benar-benar mampu mengiringi setiap kita menentukan langkah dalam hidup. Ilmu adalah amanah. Dia juga pelita yang sesungguhnya sangat mampu untuk menerangi jalan mencapai hidayah Allah. Tapi tanpa kesadaran dan kewaspadaan yang cukup, ilmu akan bisa menjerumuskan seseorang pada kedalaman lembah dosa yang lebih jauh daripada orang yang tak memiliki ilmu.

Saudaraku,
Camkanlah perkataan Sofyan At Tsauri, "Setiap makhluk Allah yang melakukan dosa adalah bodoh. Baik ia berilmu atau tidak berilmu. Jika ia berilmu, siapa yang lebih bodoh darinya? Dan jika ia tidak berilmu maka karena itulah ia berbuat dosa…"

Semoga kita termasuk dalam kelompok hamba-hamba Allah yang disabdakan Rasulullah SAW, “Man yuridillahu bihi khairan yufaqihhu fid diin…”Artinya, Barangsiapa yang Allah kehendaki baik, maka akan Allah berikan padanya pemahaman agama." Wallahu’alam