Konon dalam perdagangan organ otak internasional, organ otak orang Indonesia paling mahal harga. Kalau otak milik orang Jerman, Jepang, dan lainnya dihargai sangat murah karena selama hidupnya sudah digunakan sampai habis-habisan. Jadi sudah soak. Sementara otak orang Indonesia itu masih orisinil karena selama hidupnya jarang digunakan. :D
Bukan maksud saya ingin meledek bangsa sendiri, saya bangga sebagai orang Indonesia, karena sebenarnya orang Indonesia itu sangat-sangat kreatif. Dan sebenarnya sangat-sangat layak memimpin DUNIA. Barangkali kalau boleh menyalahkan, lingkunganlah yang membuat otak kita jarang dipakai. Obatnya cuma satu, kita sendiri yang harus mengoptimalkan otak kita.
Selama beberapa minggu ini saya kurang aktif menanggapi tanggapan dan komentar teman-teman pembaca di blog saya. Karena ada beberapa yang cukup menjengkelkan karena sudah ada jawabannya, masih juga ditanyakan. Saya cuma bisa ngelus dada dan bilang A.B.C.D!! (Aduh Booo Capek Dech) ha.. ha.. ha..
Sementara ada yang membuat saya merasa tertantang, beberapa pertanyaan dan komentar pembaca saya pikir sangat berbobot dan membuat saya mengernyitkan dahi. Terus terang saya merasa, kayaknya para pembaca lebih pinter dari saya dech. Suweerrr….. Aduh koq masih pada nanya sama saya yang masih segini-segini aja, he.. he.. he..
Yang saya lakukan, saya banyak melakukan brainstorming, sekalian untuk memikirkan kemajuan usaha saya. Juga membaca literatur, buku, ebook untuk mengisi ruang kosong di rongga tengkorak saya. Tidak lupa beberapa link di google mengarahkan saya pada audiobook dari tokoh-tokoh terkenal yang sepertinya menjadi vitamin baru buat otak saya.
Satu hal yang menjadi pikiran saya terus terpacu, sepertinya selama ini, kita (saya khususnya) masih sangat takut untuk BERPIKIR BESAR ya. Kita mungkin sudah memikirkan bagaimana untuk secepatnya keluar kerja dan punya usaha yang omsetnya milyaran rupiah. Dan kita sudah menganggap itu adalah PIKIRAN BESAR iya kan.
Tapi saat berkaca pada para mentor virtual saya (para penulis buku dan tokoh dalam audiobook) sepertinya pikiran yang sudah saya nobatkan sebagai PIKIRAN BESAR tersebut, ternyata belum ada apa-apanya.
Saya juga jadi ingat pesan Pak Agus dari Action Coach waktu saya mendapat konsultasi di Action, “kita itu kalau berpikir bisnis, cuma bisa memikirkan pasar di sekitar toko kita saja, cobalah untuk memikirkan dunia sebagai pasarnya”. Hmmmm barangkali kita harus menanamkan pikiran yang lebih besar lagi ya, misalnya “Bagaimana saya bisa menaklukkan dunia?”. Isn’t that interesting. Yuk kita regangkan lagi otot-otot otak kita, kita buka lagi pembuluh-pembuluhnya, untuk memberi ruang bagi PIKIRAN-PIKIRAN yang lebih BUESAR lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar